M.Fadhil Ramadhan (Muhammadiyah university Yogyakarta and Sultan Syarif Kasim State Islamic University Riau) – Saat ini dunia sedang mengalami era geopolitik baru. Sepanjang sebagian besar abad ke-20, persaingan antara kekuatan-kekuatan besar lebih tajam dan lebih lugas bentuknya: pada dasarnya bermuara pada peperangan dan perebutan wilayah.
Segala hal mulai dari ekonomi hingga teknologi, kecerdasan buatan, energi, keamanan siber, dan pengaruh media digital turut berperan dalam persaingan ini.
Teori Umum Konflik Militer-Industri-Media: Kekuatan militer saja tidak lagi cukup; aliansi yang saling terhubung secara internasional telah muncul sebagai sarana utama bagi negara-negara untuk terlibat dalam urusan luar negeri dan tetap memiliki pengaruh internasional.
Dengan latar belakang ini, dunia secara progresif beralih dari era satu kekuatan super. Kini muncul struktur multipolar sistem internasional, di mana kekuatan global didistribusikan di antara berbagai negara dan blok strategis.
AS masih penting, tetapi Tiongkok dengan cepat meningkatkan pengaruh globalnya, Rusia telah muncul kembali sebagai pemain geopolitik, dan kemudian kekuatan-kekuatan baru seperti India, Brasil, dan india sedang menapaki tangga pembangunan internasional.
Bockstette: Pertama dan terpenting, aliansi internasional telah menjadi alat penting dalam situasi ini. Anehnya, aliansi modern juga tidak hanya berkaitan dengan perang atau pertahanan, tetapi juga melibatkan uang, teknologi, perdagangan, energi, dan bahkan data digital (pintar!).
Baca juga: Orang Desa Memang Tidak Butuh Dollar, Tetapi Kehidupan Kami Tetap Dipengaruhi Dollar
Secara garis besar, aliansi internasional saat ini dapat dikategorikan menjadi empat kelompok utama. Aliansi ekonomi yang berfokus pada perdagangan, investasi, stabilitas ekonomi, dan pengaruh (BRICS, Uni Eropa, G7, dan G20) adalah yang pertama.
Kedua, aliansi militer dan keamanan seperti Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO), AUKUS, Dialog Keamanan Kuadrilateral (atau Quad), dan Organisasi Pakta Keamanan Kolektif (CSTO) dengan prinsip dasar pertahanan kolektif dan keseimbangan kekuatan global.
Ketiga, terdapat aliansi regional seperti ASEAN (Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara), Liga Arab, dan Uni Afrika yang memperkuat bidang kerja sama regional di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Baca juga: Ibu Marsiyah dan Makna Kesabaran, Haji dari Hasil Jualan Jenang
Terakhir, kategori keempat adalah organisasi politik transnasional, terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Gerakan Non-Blok yang mengandalkan diplomasi multilateral untuk membangun keseimbangan kekuatan dalam sistem keamanan bersama.
Sebaliknya, pusat gravitasi geopolitik dunia kini bergeser ke kawasan Indo-Pasifik. Kawasan ini merupakan pusat jalur perdagangan internasional, persaingan pengaruh ekonomi, keamanan maritim, dan teknologi global. Karena itulah tidak mengherankan jika kemitraan seperti AUKUS atau Quad semakin banyak dibicarakan.
Bahkan, NATO juga telah mulai memperkuat dialognya dengan negara-negara Indo-Pasifik, karena diakui bahwa kawasan ini akan sangat penting bagi ekonomi dan keamanan dunia selama beberapa dekade mendatang.
Baca juga: Pesta Babi dan Krisis Hutan Papua yang Jarang Dibicarakan
BRICS lebih dari sebelumnya merupakan kekuatan ekonomi alternatif yang berkembang. Selama bertahun-tahun dikenal hanya sebagai blok Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan, dan kini memperluas keanggotaannya, keanggotaan penuh untuk Indonesia dimulai pada tahun 2025.
Tindakan ini merupakan sinyal bahwa negara-negara berkembang berupaya meningkatkan pengaruh negosiasi mereka dalam tatanan ekonomi global yang selama ini dianggap terlalu didominasi Barat.
Insiden ini menunjukkan bahwa geopolitik modern yang hitam putih telah lama hilang. Negara-negara cenderung bermain secara fleksibel. Mereka dapat bekerja sama di beberapa bidang, seperti ekonomi, sementara bersaing di bidang lain, seperti teknologi atau keamanan.
Baca juga: Glow Up Natural? Mulai dari Tomat
Dunia telah menjadi terlalu saling terkait sehingga bahkan rival geopolitik pun tidak dapat lagi saling bergantung secara memadai.
Di era globalisasi yang cepat, perselisihan di satu bagian dunia dapat secara instan berdampak pada negara lain. Ketegangan geopolitik dapat menyebabkan kenaikan harga minyak yang tajam, mengancam rantai pasokan global, menaikkan harga pangan, dan menimbulkan ketidakstabilan dalam sistem keuangan internasional.
Inilah sebabnya mengapa forum seperti G20 berkembang menjadi tempat penting untuk koordinasi ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi negara-negara G20 dalam beberapa tahun mendatang harus mengatasi tantangan besar yang ditimbulkan oleh ketegangan geopolitik, proteksionisme perdagangan, dan ketidakpastian global, demikian peringatan IMF sendiri.
Baca juga: Jangan Biarkan Lidah Menjadi Pedang
Teknologi kini telah muncul sebagai front baru untuk persaingan antar negara, selain ekonomi dan militer. Perjuangan global bukan hanya perlombaan kecerdasan buatan, semikonduktor, keamanan siber, dan juga teknologi ruang angkasa.
Dengan demikian, diplomasi modern berkembang menjadi aliansi yang sebagian besar multidimensional. Tidak hanya kapal selam nuklir (AUKUS) tetapi juga teknologi keamanan dan pertahanan digital.
Pada saat yang sama, Quad telah mulai terlibat dalam rantai pasokan global, keamanan maritim, dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.
Baca juga: Santri Darul Ulum Jambi Lolos SNBP, Langkah Awal Menuju Masa Depan Cerah
Namun, persaingan global modern kini terjadi di ruang digital. Kita sekarang berada di era informasi sebagai bentuk senjata geopolitik baru.
Kita telah belajar bahwa media sosial, propaganda digital, perang informasi, dan manipulasi opini publik tingkat tinggi telah menjadi komponen baru dari strategi kekuatan setiap negara.
Dengan demikian, hubungan internasional di era modern memberikan konteks tinggi pada keamanan siber dan telah menyelesaikan penguasaan teknologi komunikasi.
Baca juga: Tawakkul and the Law of Attraction: Can They Coexist in Islam?
Peran Indonesia di sini semakin strategis, dan sebenarnya ini tampaknya menjadi posisi yang menarik bagi partai Polkadot. Indonesia berada di pusat jalur perdagangan dunia antara Samudra Hindia dan Pasifik secara geografis, oleh karena itu Indonesia tidak hanya semakin diidentifikasi secara budaya sebagai salah satu negara berkembang terbesar di dunia tetapi juga secara ekonomi.
Dengan pemahaman ini, tidak mengherankan bahwa Indonesia saat ini telah aktif terlibat dalam berbagai forum strategis global; dari ASEAN hingga G20 hingga BRICS.
Namun, menyeimbangkan semua ini adalah tantangan terbesar Indonesia. Indonesia tidak boleh condong ke timur atau barat. Inilah mengapa kebijakan luar negeri yang independen dan aktif menjadi dasarnya.
Baca juga: Pemuda dan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan
Prinsip ini memungkinkan Indonesia untuk menjaga persahabatan dengan berbagai kekuatan di seluruh dunia tetapi tidak sepenuhnya terikat dalam aliansi militer.
Pendekatan seperti itu paling efektif bagi Indonesia, dan menjadi kekuatan diplomatik kita seiring persaingan global yang semakin kompleks.
Dunia saat ini bukanlah dunia yang hanya membutuhkan negara-negara yang kuat secara militer, tetapi dunia yang membutuhkan negara-negara yang cukup seimbang untuk menjadi penstabil atau lebih tepatnya; mitra penyeimbang di tengah kepentingan global yang bertentangan.
Baca juga: Santri Darul Ulum Jambi Lulus SPAN-PTKIN, Bukti Kesungguhan Belajar dan Pembinaan Pesantren
Namun, geopolitik modern menyiratkan bahwa mekanisme hubungan internasional jauh lebih cair dan kompleks daripada di masa lalu.
Dengan demikian, aliansi internasional tidak lagi hanya tentang mengidentifikasi teman dan musuh, mengidentifikasi siapa yang bersama Anda dan siapa yang melawan Anda, tetapi juga tentang bagaimana negara dapat menciptakan jaringan pengaruh untuk melindungi kepentingan nasional mereka di dunia yang saling bergantung.
Dalam konteks ini, Indonesia menemukan banyak peluang. Dengan stabilitas domestik yang baik, kemajuan teknologi di bidang ekonomi digital, kualitas sumber daya manusia, dan diplomasi yang cerdas, Indonesia tidak akan ketinggalan untuk menjadi salah satu kekuatan besar negara di kawasan Indo-Pasifik.
Editor: Tim Redaksi Ara Media Indonesia
Sampah Hukum dan Kesadaran Publik | Ari kurniawan, S.H., M.H
Referensi:
NATO – Relations with partners in the Indo-Pacific region https://www.nato.int/cps/en/natohq/topics_183254.htm
NATO Official Statement with Indo-Pacific Partners https://www.nato.int/en/about-us/official-texts-and-resources/official-texts/2025/06/25/statement-between-nato-secretary-general-and-the-four-indo-pacific-partners
NATO Partnerships Overview https://www.nato.int/en/what-we-do/partnerships-and-cooperation/natos-partnerships
Kompas.com – Daftar Anggota BRICS 2025 Usai Indonesia Resmi Bergabung https://www.kompas.com/tren/read/2025/01/08/123000965/daftar-anggota-brics-2025-usai-indonesia-resmi-bergabung
Direktorat Jenderal Pajak RI – Gabung BRICS dan Benefit Perpajakan https://www.pajak.go.id/id/artikel/gabung-brics-dan-benefit-perpajakan
International Monetary Fund (IMF) https://www.imf.org/en/Home
Reuters World News – Geopolitics & Global Economy https://www.reuters.com/world/
United Nations (UN) Official Website https://www.un.org
ASEAN Official Website https://asean.org
BRICS Information Portal https://infobrics.org
The Impact of Geopolitical Conflicts on Trade, Growth, and Innovation https://arxiv.org/abs/2203.12173
The Geopolitical Determinants of Economic Growth, 1960–2019 https://arxiv.org/abs/2507.04833
The Impact of Geopolitical Risk on the International Agricultural Market https://arxiv.org/abs/2404.01641
Australian Journal of International Affairs – NATO’s Indo-Pacific Partners https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/10357718.2025.2503449




