Ibu Marsiyah dan Makna Kesabaran, Haji dari Hasil Jualan Jenang

Ara Media Indonsia – Ibadah haji selalu menjadi impian terbesar bagi seluruh umat Muslim termasuk di Indonesia. Namun, sebelum menunaikan ibadah haji, banyak hal penting yang perlu di persiapkan. Seperti kesiapan fisik, mental, dan biaya yang tentu saja tidak sedikit.

Banyak sekali kisah-kisah inspiratif yang bisa kita jadikan sebagai pengingat tentang kesabaran. Salah satunya adalah ibu Marsiyah, seorang Jemaah haji tertua berusia 105 tahun yang berasal dari Kediri.

Beliau akhirnya bisa menunaikan ibadah haji pada tahun ini setelah menunggu bertahun-tahun. Fakta menariknya adalah beliau berangkat haji dari hasil menabung sedikit demi sedikit melalui jualan jenang.

Baca juga: Rupiah, BRICS, dan Geopolitik Dunia: Seberapa Strategis Posisi Indonesia di Tengah Pergeseran Ekonomi Global?

Menjadi seorang penjual makanan tradisional seperti jenang tampak sederhana jika dilihat sekilas, namun justru bisa menjadi jalan menuju rumah Allah. Melalui keberhasilan Ibu Marsiyah dalam menunaikan ibadah haji menunjukkan kepada kita bahwa terkadang impian besar tidak selalu berasal dari kekayaan yang berlimpah, tetapi bisa dari konsistensi dan kesabaran.

Dalam wawancara nya bersama Kumparan (22/05/2026), Ibu Marsiyah menjelaskan bahwa biaya administrasi serta uang saku berasal dari hasil menabung jualan jenang, dan kekurangannya di tutupi oleh anaknya. Ketika di tanya berapa tabungan per harinya, beliau menjawab, “sedikit-sedikit mas, kadang dua ribu, kadang ya lima ribu

Menginjak usia yang tidak lagi muda, Ibu Marsiyah tetap memiliki semangat besar dalam memenuhi panggilan haji. Usia tidak menjadi penghalang dalam meraih mimpi.

Baca juga: Indonesia dan Tantangan Mata Uang Internasional: Antara Ambisi Rupiah dan Realitas Geopolitik Global

Fenomena ini menjadi tamparan bagi generasi muda yang sering merasa mudah menyerah, kondisi ekonomi yang tidak stabil, dan kehilangan semangat dalam menghadapi tuntutan hidup. Memang terkadang kekuatan terbesar manusia tidak berasal dari fisik, melainkan dari keyakinan dan ketulusan hati.

Kisah Ibu Marsiyah ini mengajarkan bahwa sesederhana apapun hidup kita, kita harus punya tujuan hidup yang jelas. Beliau bukan pejabat, bukan orang kaya, bukan juga tokoh terkenal. Beliau hanya seorang perempuan yang bekerja keras melalui jualan jenang.

Namun dari kesederhanaan nya melahirkan pelajaran hidup yang luar biasa. Siapa pun bisa mencapai impian nya jika di lakukan dengan niat, usaha, dan doa yang istiqomah. Hal ini menjadi bukti bahwa Allah melihat kesungguhan hamba-Nya bukan latar belakang sosialnya.

Baca juga: Indonesia and the Challenges of International Currency: Between Rupiah Ambitions and Global Geopolitical Realities

Kisah ini patut untuk di sebarluaskan di tengah marak nya berita negatif. Masyarakat membutuhkan sosok teladan yang mampu menghadirkan harapan serta membangkitkan semangat dalam menjalani hidup. Selain itu, kisah nya juga mengajarkan bahwa perjuangan kecil yang di lakukan dengan ikhlas akan menghasilkan sesuatu yang besar dan bermakna.

Pada akhirnya perjalanan Ibu Marsiyah bukan hanya tentang perjalanan seorang muslim ke tanah suci, tetapi juga tentang keteguhan hati, kesabaran, dan kekuatan mimpi di tengah keterbatasan ekonomi dan usia lanjut.

Semoga kisah perjuangan beliau menjadi inspirasi dan pengingat bagi kita semua bahwa setiap usaha yang di lakukan dengan penuh keikhlasan dan kesabaran akan berbuah manis.

Penulis: Binti Syufiana Budairoh

Sumber:

https://vt.tiktok.com/ZSxPbgRFD/

Layanan

Sambut 1 Dzulhijjah: Momentum Emas Raih Pahala di Bulan Haji

Arsip yang Menolak Sampai | Mutiara Ariska

Scroll to Top