M.Fadhil Ramadhan (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta & UIN Sultan Syarif Kasim Riau) – Transisi hegemoni global saat ini tidak hanya terjadi dalam politik itu sendiri, tetapi juga dalam ekonomi global. Dunia yang telah lama dikuasai oleh negara-negara Barat, mulai berubah menjadi sistem multipolar.
Sebuah sistem di mana negara-negara berkembang mulai memiliki peran yang lebih sentral dalam menentukan arah ekonomi dan politik dunia. Salah satu contoh transformasi ini adalah munculnya BRICS sebagai kekuatan besar baru.
BRICS adalah singkatan dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan (tiga negara BRICS). BRICS didirikan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, perdagangan, dan investasi, serta pembangunan antar negara berkembang.
Dalam hal ini, BRICS juga merupakan respons terhadap hegemoni ekonomi Barat yang telah lama terlalu kaku dalam upaya mengelola ekonomi global, terutama terkait penggunaan dolar AS untuk menyelesaikan transaksi internasional.
Seperti yang dilaporkan oleh berbagai laporan ekonomi internasional serta penelitian akademis dari lembaga keuangan global, kekuatan dolar AS masih sangat kuat dalam transaksi dunia.
Sebagian besar perdagangan internasional dilakukan menggunakan dolar sebagai mata uang utama.
Akibatnya, jika kenaikan nilai dolar menyebabkan depresiasi nilai tukar nominal negara-negara tersebut, hal itu memicu tekanan ekonomi termasuk beban utang luar negeri yang lebih tinggi bagi banyak negara berkembang.
Baca juga: Pesta Babi dan Krisis Hutan Papua yang Jarang Dibicarakan
Itulah mengapa negara-negara BRICS mulai mendorong negara-negara berkembang untuk terlibat dalam perdagangan internasional menggunakan mata uang lokal mereka yang secara efektif akan membuat dolar AS menjadi usang.
Salah satu negara yang ingin lebih dekat dengan BRICS adalah Indonesia. Hal ini terkait langsung dengan posisi Indonesia yang sangat strategis secara geografis.
Secara geografis, Indonesia terletak di jalur pelayaran internasional antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Indonesia memiliki populasi yang besar, kaya akan sumber daya alam, dan memiliki perekonomian terbesar di kawasan ASEAN.
Baca juga: Sambut 1 Dzulhijjah: Momentum Emas Raih Pahala di Bulan Haji
Posisi ini menjadikan Indonesia memiliki nilai yang sangat penting dalam studi geografi politik dalam persaingan ekonomi dan geopolitik global.
Berbagai sektor ekonomi dan hubungan internasional menganalisis niat Indonesia untuk memanfaatkan BRICS, dengan fokus pada perluasan pasar dalam menemukan pasar ekspor baru dan investasi untuk program pemulihan nasionalnya guna menjaga ketertiban dalam diplomasi global, terutama antara kekuatan Barat dan Timur.
Indonesia juga telah memulai kampanye untuk menerapkan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional melalui kerja sama bilateral dengan beberapa negara mitra.
Ini merupakan salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Baca juga:Santri Darul Ulum Jambi Lulus SPAN-PTKIN, Bukti Kesungguhan Belajar dan Pembinaan Pesantren
Selain alasan ekonomi, kedekatan Indonesia dengan BRICS juga ditentukan oleh kebijakan luar negerinya yang independen dan aktif sejak lama yang telah menjadi inti diplomasi Indonesia.
Kebijakan luar negeri yang independen dan aktif berarti Indonesia tidak mengadopsi bias yang nyata terhadap kekuatan dunia mana pun, tetapi tetap aktif dalam menjaga perdamaian serta kerja sama internasional.
Prinsip ini telah diadopsi sejak masa Presiden Soekarno dan masih relevan hingga saat ini di era persaingan Amerika vs. Tiongkok.
Baca juga: Mengenal Keberagaman Indonesia Melalui Permainan Tradisional Gasing
Mungkin ada beberapa efek positif yang akan diperoleh Indonesia jika berpartisipasi aktif dalam kerja sama BRICS. Dari perspektif ekonomi, Indonesia memiliki ruang untuk mengekspor nikel, batubara, minyak sawit, dan produk industri lainnya ke negara-negara BRICS.
Selain itu, dana untuk infrastruktur, energi, dan teknologi dari Tiongkok atau India dapat membantu Jakarta.
Beberapa studi ekonomi internasional menyatakan bahwa perdagangan dalam mata uang lokal (nasional) dapat mengurangi tekanan pada negara berkembang akibat fluktuasi dolar AS.
Baca juga: Wabah Ebola Menjadi Alarm Kesehatan Global
Langkah ini, menurut kantor pemerintah di Jakarta, dapat memperkuat rupiah dan meningkatkan soliditas ekonomi nasional Indonesia dalam jangka panjang.
Sikap politik Indonesia di arena global juga dapat menjadi lebih kuat. Indonesia dapat menjadi penghubung antara negara-negara berkembang, ASEAN, dan kekuatan ekonomi global.
Secara geopolitik, Indonesia dipandang memiliki posisi seperti baji di kawasan Indo-Pasifik yang semakin penting dalam geopolitik dunia saat ini.
Baca juga: Sambut 1 Dzulhijjah: Momentum Emas Raih Pahala di Bulan Haji
Selain itu, arus masuk produk dari negara-negara BRICS saat ini berisiko menutupi produk Indonesia tanpa adanya dorongan untuk meningkatkan daya saing nasional.
Persaingan di bidang industri, teknologi, dan perdagangan semakin ketat. Oleh karena itu, kualitas sumber daya manusia dan industri nasional serta inovasi teknologi di Indonesia harus diperkuat agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi negara lain.
Mengenai diplomasi internasional, Indonesia juga terlibat dalam sejumlah organisasi global seperti PBB, ASEAN, dan Gerakan Non-Blok.
Baca juga: Kajian Islami: Ruang “Charge” Iman di Tengah Lelahnya Kehidupan Modern
Di PBB, Indonesia dikenal karena mengerahkan Pasukan Garuda secara militer di wilayah-wilayah yang berperan sebagai penjaga perdamaian di seluruh dunia dan sering mengadvokasi isu-isu lingkungan, terutama untuk Palestina serta negara-negara berkembang lainnya. Indonesia adalah negara pendiri dan negara terkuat di Asia Tenggara (ASEAN).
Pada saat yang sama, melalui Gerakan Non-Blok, Indonesia terus mempertahankan kebijakan luar negeri independen yang aktif untuk memenangkan persaingan geopolitik global.
Di banyak forum internasional, Indonesia telah berupaya menyeimbangkan hubungan positif dengan negara-negara maju sambil mempertahankan hubungan baik dengan negara-negara berkembang (China, India, dan juga Rusia).
Baca juga: Pemuda dan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan
Terkait: Dewan Perdamaian (BoP): Sebuah badan internasional baru-baru ini dibentuk terkait upaya bantuan untuk rekonstruksi Gaza, pasca perang Hamas-Israel. Banyak media asing melaporkan bahwa tujuan forum ini adalah untuk menjadi kekuatan penstabil di Gaza, mengarahkan bantuan internasional dan membangun kembali wilayah Palestina.
Indonesia dilaporkan mendukung upaya perdamaian ini berdasarkan komitmen negara terhadap kemanusiaan dan dengan dukungannya terhadap Palestina.
Namun, keberadaan BoP juga menghadapi kritik dari beberapa pihak. Pengamat ini masih mengatakan bahwa forum tersebut didominasi oleh politik kekuatan besar, dan bahwa terlalu sedikit masukan Palestina dalam mekanisme tersebut membuatnya jauh dari representasi nasional yang sebenarnya.
Baca juga: Orang Desa Memang Tidak Butuh Dollar, Tetapi Kehidupan Kami Tetap Dipengaruhi Dollar
Inilah alasannya, mengapa Indonesia harus berhati-hati dalam mengambil sikap diplomatiknya, agar tidak bertentangan dengan semangat kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif, serta kepentingan nasional.
Pada akhirnya, Indonesia melihat peluang dan tantangan dalam perubahan geopolitik global saat ini. Negara-negara BRICS akan membuka pintu baru bagi lebih banyak ekonomi, investasi, dan pengaruh global.
Namun, Indonesia juga harus menghindari terjebak dalam ketegangan antara kekuatan dunia, dan membutuhkan kebijakan luar negeri yang seimbang.
Baca juga: Indonesia dan Tantangan Mata Uang Internasional: Antara Ambisi Rupiah dan Realitas Geopolitik Global
Indonesia berada pada posisi yang baik, karena posisi geografisnya, pengaruh ekonomi yang meningkat, dan kebijakan luar negeri yang proaktif, untuk menjadi salah satu negara tulang punggung yang akan membantu membentuk tatanan dunia multipolar yang sedang berkembang.
Editor: Tim Redaksi Ara Media Indonesia
Referensi:



