Ara Media Indonesia – Ada sebuah peribahasa yang berbunyi begini “Lidah tidak bertulang.” Peribahasa ini menggambarkan betapa mudahnya anggota tubuh kecil tersebut mengucapkan berbagai perkataan, bahkan melukai hati orang lain tanpa disadari.
Di zaman sekarang, memperoleh informasi bukanlah perkara sulit. Berbagai berita dapat tersebar dengan sangat cepat, baik kabar baik maupun kabar buruk. Tidak sedikit komentar pedas yang dengan mudah diketik dan disebarluaskan. “Netizen maha benar” menjadi julukan bagi orang-orang yang gemar melontarkan komentar buruk tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Selain itu, tidak jarang pula ditemukan orang-orang yang menyampaikan komentar menyakitkan secara langsung.
Baca juga: Kajian Islami: Ruang “Charge” Iman di Tengah Lelahnya Kehidupan Modern
Sebagai contoh, ucapan seperti “Kok kamu belum kerja sih?” atau “Kok kamu belum menikah sih?” sering kali dianggap hal biasa. Begitu pula komentar mengenai bentuk tubuh seseorang. Padahal, tanpa berpikir terlebih dahulu, kita tidak pernah tahu perjuangan yang sedang mereka hadapi. Bisa jadi seseorang tengah berusaha keras mencari pekerjaan, atau sedang mempersiapkan masa depan yang lebih baik sebelum memutuskan menikah.
Tanpa disadari, perkataan maupun komentar yang dilontarkan begitu saja dapat melukai orang yang sedang diajak berbicara. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran untuk menjaga setiap ucapan yang keluar dari mulut kita, sekecil apa pun itu.
Budaya saling mengejek yang dianggap sebagai bentuk keakraban antarteman maupun kerabat juga dapat menimbulkan luka batin. Berbagai komentar tentang penampilan, status, maupun pekerjaan yang disampaikan, baik sengaja maupun dibungkus candaan, dapat menjadi kenangan yang membekas bagi seseorang. Kita sering kali tidak menyadarinya karena tidak berada di posisi orang tersebut.
Baca juga: Sambut 1 Dzulhijjah: Momentum Emas Raih Pahala di Bulan Haji
Menurut ahli psikologi, manusia cenderung lebih lama mengingat komentar negatif dibandingkan pujian. Dampak dari luka batin dapat membuat seseorang merasa malu, minder, tidak diterima, bahkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan trauma psikologis, kehilangan rasa percaya diri, hingga merusak hubungan kekerabatan maupun pertemanan.
Kasus perundungan verbal yang berujung pada depresi, bahkan hal yang lebih fatal, juga sudah banyak terjadi.
Lalu, bagaimana cara menjaga ucapan? Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Pertimbangkan apakah perkataan tersebut perlu diucapkan dan apakah dapat menyakiti orang lain. Cobalah menempatkan diri sebagai orang yang menerima ucapan tersebut.
Baca juga: Orang Desa Memang Tidak Butuh Dollar, Tetapi Kehidupan Kami Tetap Dipengaruhi Dollar
Pastikan pula setiap pertanyaan disampaikan dengan sopan. Jika terlanjur menyakiti, jangan ragu untuk meminta maaf.
Sebagai contoh, pertanyaan “Kok kamu gendut sekarang?” dapat diganti menjadi “Bagaimana kabarmu sekarang?” Selain itu, pertanyaan “Kok kamu belum menikah?” dapat diganti menjadi “Bagaimana rencana ke depanmu?”
Mungkin bagi sebagian orang komentar negatif dapat menjadi dorongan untuk berubah menjadi lebih baik. Namun, kita tidak pernah tahu seberapa besar dampak buruk komentar tersebut terhadap kehidupan seseorang.
Baca juga: Glow Up Natural? Mulai dari Tomat
Menjaga ucapan dan menghindari komentar negatif dapat membantu menciptakan hubungan kekerabatan dan pertemanan yang harmonis. Selain itu, hal tersebut juga dapat membentuk lingkungan yang aman, nyaman, dan tenteram.
Mari biasakan diri untuk sejenak berpikir sebelum berbicara.
Penulis: Binti Syufiana Budairoh



