Ara Media Indonesia – Bulan dzulhijjah merupakan bulan terakhir dalam kalender tahunan Hijriyyah. Setiap tahun bulan ini menjadi bulan yang paling di tunggu-tunggu bagi seluruh jemaah haji dari berbagai negara.
Para ulama sepakat bahwa bulan dzulhijjah merupakan hari-hari yang paling utama di dunia, terutama di 10 hari pertama bulan dzulhijjah.
Imam Nawawi menyatakan dalam kitab Al-Adzkar: “ketahuilah, bahwasannya di sunnahkan untuk memperbanyak dzikir pada sepuluh hari ini dengan kesunnahan yang lebih (ekstra) di bandingkan hari lainnya. Dan sangat di sunnahkan memperbanyak dzikir tersebut pada hari Arafah lebih banyak lagi daripada sisa hari lainnya di sepuluh hari tersebut.”
Orang Desa Memang Tidak Butuh Dollar, Tetapi Kehidupan Kami Tetap Dipengaruhi Dollar
Mengapa demikian? Karena pada sepuluh hari pertama ini menjadi tempat berkumpulnya induk-induk ibadah, yakni shalat, puasa, sedekah, dan haji. Momentum ini tidak terjadi pada bulan-bulan lainnya.
Sebagai seorang Muslim, sudah seharusnya kita menyambut momen ini dengan kegembiraan hati yang tidak hanya dengan sekadar rutinitas, tetapi juga dengan berbagai amalan untuk menyambut bulan haji.
Kita jadikan bulan ini sebagai wadah untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah.
Bagi umat Islam yang sedang menunaikan ibadah haji, momen ini menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah di tanah suci. Sedangkan bagi umat Islam yang belum bisa menunaikan ibadah haji, kita bisa merasakan hal yang sama dengan memperbanyak doa dan amal yang baik.
Glow Up Natural? Mulai dari Tomat
Banyak sekali amalan-amalan yang bisa kita lakukan pada bulan yang istimewa ini, di antaranya adalah melakukan puasa pada hari ke delapan dan ke sembilan pada bulan dzulhijjah, memperbanyak takbir dan dzikir, serta melaksanakan ibadah qurban.
Puasa pada hari ke delapan pada bulan dzulhijjah disebut sebagai puasa tarwiyah, sedangkan puasa pada hari ke sembilan disebut sebagai puasa arafah.
Imam Nawawi mengatakan bahwa sunnah melakukan puasa pada sembilan hari pertama bulan dzulhijjah dan sangat menekankan pada puasa arafah.
Mengenal Keberagaman Indonesia Melalui Permainan Tradisional Gasing
Puasa pada hari ke sembilan atau yang disebut sebagai puasa arafah, akan membuat kita ikut merasakan atmosfer yang sama dengan jemaah haji yang sedang melaksanakan wuquf di padang arafah.
Ketika jemaah haji sedang menahan lelah juga panasnya terik matahari saat wuquf, maka kita di rumah juga menahan lapar dan dahaga sebagai kenikmatan dalam melaksanakan ibadah puasa.
Selain itu, melaksanakan ibadah qurban juga akan membuat kita kembali membuka sejarah dan arti kehidupan.
Melalui kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kita bisa memaknai apa arti ikhlas, serta mengingatkan kita bahwa mencintai seseorang tidak harus memiliki sepenuhnya, dan berserah diri bukan berarti kalah.
Jika belum bisa untuk menunaikan haji, kita bisa melaksanakan ibadah qurban. Jika belum bisa melaksanakan ibadah qurban, kita bisa melaksanakan ibadah puasa. Jika puasa pun belum bisa, kita bisa merayakan bulan dzulhijjah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah.
MashaAllah, begitu indahnya nikmat sebagai seorang Muslim.
Ada sebuah hadist yang memberikan anjuran sebelum melaksanakan ibadah qurban: “siapa saja yang ingin berkurban dan apabila telah memasuki awal dzulhijjah (1 dzulhijjah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berkurban”
Tawakkul and the Law of Attraction: Can They Coexist in Islam?
Dengan memperbanyak ibadah, sesaat kita akan lupa dengan hiruk pikuk dunia yang melelahkan.
Jadikan bulan ini sebagai bulan untuk menata ulang kembali hati kita, menata tujuan hidup yang lebih baik untuk tahun-tahun yang akan datang.
Semoga Allah limpahkan kesehatan, kelancaran rezeki yang halal, dan keberkahan hidup untuk terus bersyukur, serta menggunakan seluruh nikmat-Nya sesuai tujuan penciptaan-Nya.
Penulis: Binti Syufiana Budairoh
Arsip yang Menolak Sampai | Mutiara Ariska
Santri Darul Ulum Jambi Lolos SNBP, Langkah Awal Menuju Masa Depan Cerah



